Contoh Iklan Cetak dan Iklan Outdoor

Selasa, 01 November 2016

Sulitnya Mengenyam Pendidikan di Indonesia



Jenjang pendidikan tertinggi memang seharusnya dikenyam. Kejar mimpi sampai ke negeri Roma pasti kan di raih.Orangtua rela morat-marit cari hutang sana-sini demi menaikkan derajatnya. Biaya kuliah yang semakin mahal terasa mencekik leher. Tatkala mimpi terasa semakin jauh. Kampus impian semakin mencongkakan diri. Misalnya, salah satu Universitas ternama di Jawa Tengah. Mereka memberlakukan sistem UKT dan SPI untuk Maba Tahun 2016.
Besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) telah resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor Undip No. 405 Tahun 2016. Dalam surat keputusan tersebut, tercantum keterangan bahwa SPI mahasiswa yang masuk melalui jalur Ujian Mandiri (UM) terdiri dari dua golongan. Adanya penggolongan SPI ini menimbulkan pertanyaan terkait mekanisme penetapannya.Terkait kuota UM tetap 25% dari total mahasiswa baru 2016 dengan rincian 20% dikenai SPI dan 5% merupakan jalur prestasi.
“Yang 5% itu untuk yang hafidz Qur’an, kemarin sudah ada yang hafidz Qur’an dan Daarul Qur’an. Tidak hanya hafidz Qur’an namun juga ada juara Sea Games. Namun kita juga harus sadar, dana semakin menyusut,” tambah Prof Yos.
             Ironi saat mengetahui memang pendidikan sebagai pengetahuan dasar yang sangat penting demi kemajuan negara. Transparasi yang kuat serta dukungan moril dari pemerintah perlu adanya. Hal ini agar Indonesia tidak kekurangan potensi tenaga SDM serta campur tangan pihak asing untuk mengelola potensi kekayaan SDA. Dua hal pokok tersebut merupakan fondasi yang kuat dan saling berkesinambungan.
Pagi itu, rintikan gerimis membasahi tanah kering dan pepohonan yang tandus. Musim kemarau panjang telah berakhir. Selimut tampak menggoda. Aku menikmati secangkir kopi hangat sambil pandangan ke layar datar. Ku nikmati sruput demi sruput kopi tersebut. Terdengar suara wanita berdengung membicarakan tentang politik. Aku tak begitu paham soal politik. Tetapi begitu berita tersebut membahas provinsi papua, Telingaku langsung menjulur panjang kearah sumber suara.
             Agar bangsa ini dapat merefleksikan solusi terbaik bagi Papua. Tentunya martabat bangsa Indonesia di ukur sejak penanganan kasus Freeport diPapua. Dengan cadangan 25 milyar pon tembaga, 40 juta ons emas dan 70 juta ons perak, nilainya sekitar 40 milyar dollar AS. Freeport diberikan jaminan untuk bekerja di lokasi pertambangan bertahun-tahun. Jika menemukan tambahan kekayaan mineral di atas 4,1 juta hektar di tanah sekitarnya akan menjadi hak eksklusif Freeport.
Negeri yang penuh dengan kekayaan alam melimpah, tanah subur beserta potensi alam didalamnya. Kekayaan alam menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Bagaimana bisa warga negara tak bisa menikmati seutuhnya potensi alam milik sendiri? Ini pembodohan atau kita saja yang bodoh?. Inilah negeri compang-camping tak berprinsip.Prinsip digadaikan dengan seonggok uang haram oleh para tikus-tikus.
Pedih rasanya menyaksikan kebiadaban Amerika Serikat terhadap Indonesia, seperti jaman penjajahan kembali terjadi. Bagaimana tidak? Hidup saja susah apalagi mati. Masyarakat papua terintimidasi di tanah sendiri. Menjadi sebuah ironi tersendiri ketika alam yang begitu subur dan kaya namun tak mampu membuat masyarakatnya hidup sejahtera. Pemerintah hanya sibuk mengurusi daerah-daerah khususnya pulau Jawa. Papua merasa terisolir. Kita tunggu saja saat papua lepas.
            Tiba-tiba listrik padam saat aku sedang termenung menyaksikan televisi.Nenek menghampiriku dengan sirih ciri khasnya. Dia datang dengan teman hidupnya, tongkat kayu sebagai penopang jalan. Nenek ku sudah berusia lebih dari setengah abad.
“ Apa yang kamu lakukan, cu? ”
“ Hanya menyaksikan televisi saja, nek. Aku geram menyaksikan berita tentang kasus Freeport di Papua. Kasihan masyarakat papua disana terabaikan dan kesusahan pastinya.”
“ Dulu jaman nenek masih muda, Perekonomian Indonesia tidak sesulit sekarang. Harga sekarang serba mahal. Zaman Soeharto dulu, Indonesia negara makmur. Tak ada warga yang kesusahan. Presiden Soeharto sangat membantu perekonomian, makanya ia dijuluki sebagai bapak pembangunan”.

            Tragedi 1998 sangat membekas diingatanku. Terutama dari zaman sekolah dasar telah diperkenalkan dengan pelajaran sejarah. Sejarah merupakan masalalu, lalu kenapa harus di kenang?. Biarlah itu menjadi misteri sendiri. Rasanya ingin ku teriak dan beranjak keluar ketika disuguhi dengan sejarah.
Mual rasanya harus mengingat masalalu. Sejarah juga belum tentu benar adanya. Buku-buku yang beredar pun masih dipertanyakan faktualnya. Pernah mendengar tentang super semar? Lalu siapa dalang peristiwa G30S/PKI? TNI, Soekarno, atau Soeharto?. Ini masih menjadi tanda tanya besar dinilai dari banyaknya versi cerita yang berbeda. Aku pikir sejarah itu dibuat oleh pemimpin atau diktator tertentu untuk menyudutkan seseorang lewat dalih ilmu.
Orde baru merupakan masa oposisi dari Orde lama. Tak dipungkiri, tepat di Hari Pahlawan 10 November tahun ini, sebagian masyarakat rindu era kepemimpinan Soeharto, Presiden RI-ke 2 yang menjabat selama 32 tahun, dari 1967 hingga 1998. Masyarakat yang tak mengubris dunia politik dan pemerintahan, merasa kepemimpinan Pak Harto dianggap peduli dengan rakyat.
"Kalau bicara enak mana? Jujur saja, enak jamannya Pak Harto. Kebutuhan pokok sandang pangan murah, bensin juga terjangkau," kata Munandar (54), warga Banguntapan, Bantul, DIY saat berkunjung ke Memorial Jenderal Besar Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (10/11/2014).
                Bagiku, seperti habis menghisap rokok. Memang awalnya manis, tetapi kita tidak mengetahui dampak kedepannya. Era soeharto memang semua serba murah, mudah dan tersedia. Tetapi dampak yang diperoleh kedepannya, anak-cucu yang akan menanggung hutang. Entah sampai kapan keterpurukan akan menjadi mimpi buruk bagi rakyat Indonesia.
Krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 menyebabkan perekonomian Indonesia terguncang. Hak tersebut juga ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jumlah utang luar negeri (ULN) yang terus bertambah. Presiden Soeharto menjabat selama 32 tahun terhitung sejak 1966 hingga Mei 1998, dalam masa pemerintahannya, Soeharto meninggalkan utang luar negeri sebesar USD136.088 (1997). Utang tersebut terdiri dari ULN Pemerintah sebesar USD53.865 dan ULN Swasta USD82.223.