Contoh Iklan Cetak dan Iklan Outdoor

Selasa, 01 November 2016

Aku dan Buku Pertamaku : “Menguak Cara Belajar Orang Yahudi”



Buku merupakan gudang ilmu dan tentu saja semua orang tahu pepatah tersebut. Tetapi mayoritas manusia kurang sadar akan pentingnya membaca buku. Di era modern seperti ini, masyarakat cenderung lebih apatis terhadap segala hal sebagai contoh membaca buku. Membaca buku merupakan kunci utama dalam hal transfer ilmu pengetahuan serta informasi.
Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa juga ikut terjerumus didalamnya. Pada zaman sekarang, orangtua lebih senang memberikan anaknya sebuah gadget ketimbang buku-buku bacaan yang lebih bermanfaat untuk anak mereka. Anak-anakpun seakan terlena dengan kecanggihan yang ada didalamnya sehingga menumbuhkan sikap malas serta ketergantungan dengan teknologi tersebut.
Di Indonesia, masyarakat pembacanya menempati angka terendah dibandingkan dengan negara lain. Minimnya masyarakat pembaca atau yang gemar membaca menimbulkan rakyat Indonesia kurang tahu lebih luas mengenai perkembangan zaman, informasi penting serta wawasan-wawasan lain yang dapat menimbulkan angka kebodohan semakin meningkat.
Karakteristik seseorang dapat dilihat melalui cara berfikirnya. Pola pikir seseorang pun dilihat dari cara ia berbicara serta jenis buku yang ia baca sangat mempengaruhi hal tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus dapat membangkitkan semangat gemar membaca. Ini dapat dimulai dengan membaca hal-hal kecil seperti membaca majalah, koran, dan lain-lain. Lalu dapat ditingkatkan lagi dengan membaca novel atau buku-buku bacaan berat.
Pengalaman pertama merupakan hal yang paling mengesankan serta sulit untuk dilupakan. Kita selalu berharap bahwa kejadian seperti itu akan terulang kembali ataupun kita dapat merasakan kembali pengalaman tersebut. Kadang kita berharap bahwa kita belum pernah membaca buku tersebut, sehingga kita dapat merasakan lagi perasaan saat membaca buku tersebut.
Pengalaman pertamaku dalam membaca adalah membaca buku “Menguak Cara Belajar Orang Yahudi”. Yahudi pun menjadi viral terutama berkaitan dengan unsur agama, peperangan, pertikaian dan lain-lain. Bangsa Yahudi juga terkenal dengan tragedi pembunuhan massal yang menelan ratusan juta jiwa oleh Adolf Hitler.
Kasus yang serupa juga menimbulkan tanda tanya bahwa Hitler sangat membenci orang Yahudi karena mereka terlahir dengan otak yang cerdas (IQ tinggi) dan banyak menjadi seorang ilmuwan. Adolf Hitler merasa bahwa orang Yahudi merupakan ancaman terbesar bagi karier politik dan jabatannya.
Setiap persoalan dan polemik yang terjadi selalu mempunyai dua sisi yaitu sisi positif dan negatif. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan tindakan yang dilakukan Hitler saat itu. Hitler hanya melihat dari sudut pandangnya terhadap orang Yahudi.
Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina pun menjadi bukti nyata. Hal ini dapat membuktikan tindakan yang Hitler lakukan merupakan tindakan yang benar. Bangsa Yahudi seakan berada pada posisi tertinggi yang dapat menguasai dunia karena kehebatan mereka.
Selain ada sisi negatif, tentunya sisi positif pun juga ada sehingga kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Contohnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kaum tersebut yang tidak diragukan lagi.
Golongan orang Yahudi menghasilkan penemuan luar biasa dalam bidang teknologi, kedokteran, politik, ekonomi, sosial, serta bidang keilmuan lainnya. Hal ini merupakan fakta yang sudah ada dan diakui oleh dunia.
Salah satu contoh seperti Albert Einstein, Ia adalah seorang tokoh fisika dunia dan ia merupakan orang Yahudi. Saking cerdasnya orang Yahudi, sejak tahun 1901 hingga sekarang, 102 dari 270 peraih penghargaan Nobel Perdamaian adalah orang Yahudi.
Keberhasilan dan kesuksesan yang mereka raih tidak didapatkan secara instant melainkan melalui tahap-tahap panjang serta aturan-aturan ketat yang diterapkan. Tentu saja ini bukan semata-mata karena dengan takdir yang diberikan Tuhan saja, dan pastinya ada rahasia-rahasia yang tidak diketahui banyak orang.
Secara garis besar, Buku ini tidak menggiring pembaca untuk mengikuti ideologi, kepercayaan ataupun agama yang mereka anut melainkan memberi pemaparan secara terperinci mengenai tips-tips yang mereka terapkan dalam konteks membangun kecerdasan otak secara alamiah serta melahirkan generasi penerus bangsa yang lebih berguna dan bermanfaat untuk masa depan. Berikut ini merupakan rahasia yang digunakkan bangsa yahudi antara lain:
.    
1.      Rahasia Pembinaan Otak dari Kandungan

Terlebih dahulu kita harus menanamkan mainstream kita bahwa kecerdasan yahudi bukan semata-mata hanya takdir, akan tetapi melalui proses alamiah. Lantas apa yang mereka lakukan sejak dalam kandungan, yaitu :
a.      Mendengarkan dan bermain musik yang berirama syahdu seperti mozart, menyegarkan pikiran, dan menambah psikologis, sehingga mampu merangsang kecerdasan otak bayi. Musik ini dapat mengatur cepat lambatnya denyut jantung janin dan bayi, bahkan penambah berat badan bayi.
b.     Mengerjakan soal matematika, karena pada hakikatnya mereka sedang melatih otak anak agar tumbuh jenius, cerdas, dan memiliki kecekatan berpikir yang cemerlang.
c.      pola makanan yang teratur. Wanita Yahudi saat hamil hanya mengkonsumsi yaitu kacang badam, kurma, susu, roti, ikan, daging, dan konsumsi pil minyak ikan dan buah-buahan. Buah-buahan mereka makan sebelum makan makanan pokok..
d.      Menjauhi asap rokok. Orang Yahudi hanya terdapat 5 % yang perokok. Jika seorang istri telah hamil, maka sang suami akan berhenti total secara perlahan dari merokok.

2. Rahasia Tempat dan Waktu Belajar yang Efektif
Tempat belajar yang efektif yaitu yang yang menyenangkan dan menyegarkan otak. Dikatakan dalam kitab suci Tauratnya “Seorang manusia tidak bisa belajar di sebuah tempat yang tidak diinginkan hatinya”.
a.       Dekat Air
b.      Tidak di Perpustakaan, karena mereka menganggap perpustakaan bukan tempat yang representative untuk belajar, karena banyak kerumunan. Mereka menjadikan perpustakaan hanya sebagai pencarian literature keilmuan.
c.       Tidak dengan bantuan elektronik
Bagi mereka justru ada nilai eksotisme jika belajar dengan kertas tulisan di dalam buku.
d.      Belajar di Waktu Pagi
Dilihat dari tujuan dan proses, orang Yahudi memiliki tiga konsep belajar, yaitu :
- Belajar sebagai hiburan tanpa memeras otak terlalu keras dan tanpa menggunakan konsentrasi pikiran yang tinggi
-   Mencari ilmu pengetahuan dan memahami kandungannya
 -  Belajar kritis dan menggunakan telaah dengan pertanyaan-pertanyaan


3.      Rahasia Hidup Serba Terampil
Di manapun mereka tinggal, sesulit apapun hidup mereka, mereka pasti mampu mengatasi semuanya. Dalam kamus kehidupan Yahudi, di mana ada kesulitan, di sana pasti ada solusi. Pada abad ke-19 mereka mulai menginjakkan kaki ke Amerika, mereka berjualan ikan bermodalkan kepercayaan diri, terampil, serta kecerdasan otak yang cemerlang, penghasilan mereka mencapai penghasilan yang cukup besar untuk ukuran saat itu.

a.        Ciri Spekulasi Orang Yahudi
Keterampilan mereka dalam spekulasi yaitu tampak kejeliannya dalam membaca peluang untuk mendatangkan keuntungan materi yang mungkin tidak pernah dipikirkan orang lain sebelumnya.

b.        Kemampuan Orang Yahudi dalam Beradaptasi
Orang Yahudi berani beradaptasi dengan berindustrialisasi, yaitu berusaha dan bekerja keras mencoba peruntungan. Bagi mereka, ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan industrialisasi hanya akan membuat mereka termarjinalkan dari aspek ekonomi.
Berdasarkan rahasia-rahasia tersebut, Manfaat yang dapat diperoleh secara langsung melalui buku tersebut ialah kita dapat mempraktekannya agar kelak generasi penerus bangsa memiliki tingkat kecerdasan seperti orang yahudi. Rahasia dalam buku tersebut pun sangat mudah mempraktekannya. Kita hanya perlu cara melatih kebiasaan menerapkan hal tersebut sehingga kita menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa dilakukan. Gemar membaca juga merupakan suatu kunci menuju kesuksesan sehingga siapapun harus menerapkan sadar pentingnya membaca bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri. Jangan membodohkan diri sendiri dengan bersikap apatis serta acuh tak acuh terhadap apapun yang dinilai penting.

Daftar Pustaka
Noor, Redyanto. 2005. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang : Fasindo
Waid, Abdul. 2011. Menguak Cara Belajar Orang Yahudi. Jakarta: Diva